Jumat, 14 Maret 2014

pepatah bijak

Kumpulan berbagai pepatah bahasa jawa yang kuno, dan ada artinya. Ada yang berhubungan dengan cinta bahkan ada yang lucu juga…  sebagai bangsa Indonesia kita harus melestarikan kebudayaan leluhur kita, dan salah satu kebudayaan yang mungkin harus kita lestarikan adalah pepatah dari beragam bahasa. Karena jika tidak kita lestarikan, maka orang pastinya suatu saat akan lupa. Kasihan nanti anak dan cucu kita yang kehilangan jati diri sebagai bangsa, coba bayangkan betapa malunya bangsa kita nanti jika tidak memiliki kebudayaan sendiri dan malah mengikuti kebudayaan orang barat.
Salah satu cara melestarikan budaya, adalah dengan melestarikan sebuah pepatah kuno. Kita bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk memberi nasihat kepada anak-anak kita yang sedang jatuh cinta. Ataupun untuk mengomentari tindakan lucu dari orang-orang sekitar kita. Memang ada baiknya, kita terus-terusan untuk menggunakannya, sehingga pepatah jawa ini tidak hilang termakan oleh waktu. Blogbintang.com disini mengajak kepada bro dan sis semua untuk menggunakannya, berikut beberapa peribahasa yang bisa kalian gunakan :
Kumpulan pepatah jawa dan ada artinya yang kurang mengerti penggunaan bahasanya.
Mburu uceng kelangan dheleg - Untuk menyatakan ketika mencari yang kecil justu kehilangan yang lebih beharga.
Esok dhele sore tempe - Untuk menyatakan orang yang mudah terbawa angin dan tidak punya pendirian.
Cecak nguntal cagak - Untuk menyatakan suatu keinginan yang tidak seimbang dengan kekuatan.
Cincing-cincing mekso klebus - Untuk menyatakan maunya irit tapi boros.
Koyo banyu karo lengo - Untuk menyatakan orang yang tidak bisa rukun dan akur.
Diwenehi ati ngrogoh rempela - Untuk menyatakan orang yang tidak bersyukur ketika diberi.
Emban cindhe emban siladan - Untuk menyatakan orang yang pilih kasih dalam memberi atau membela.
Ojo Keminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Ciloko - Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
Ojo Adigang, Adigung, Adiguna - Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti
Ojo Milik Barang Kang elok - Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah
Aja Mangro Mundak Kendo - Jangan berfikir mendua agar tidak luntur niat dan semangat.
Kegedhen empyak kurang cagak - Untuk menyatakan punya cita cita yang besar tetapi tidak punya kemampuan yang cukup.
Milih milih tebu oleh boleng - Untuk menyatakan terlalu banyak pertimbangan yang akhirnya justru mendapat yang tidak baik.

Kakehan gludug ora udan - Untuk menyatakan orang yang banyak bicara tetapi hasilnya tidak tampak.
Kumpulan pepatah bahasa jawa tanpa arti dalam bahasa indonesia
Ajining Diri Soko Lathi, Ajining Rogo Soko Busono
Urip Sadermo Nglakoni Tumekaning Takdir
Sak Bejo-bejone Wong Kang Lali Isih Bejo Wong Kang Eling Lan Waspodo
Wong jowo ilang jawane
Becik ketitik olo ketoro
Kacang manut lanjaran
Becik ketitik olo ketoro
Kacang manut lanjaran
Nandur ngunduh, tlaten panen
Mendhem njero mikul nduwur
Jer basuki mawa beyo
Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani
Witing tresno jalaran soko kulino
Nandur ngunduh, tlaten panen
Mendhem njero mikul nduwur
Jer basuki mawa beyo
Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani
Witing tresno jalaran soko kulino
Wong Sing Rumongso Pinter Tondo Yen Bodho
Bagi kalian yang memiliki pepatah jawa kuno lainnya bisa menambahkannya melalui form komentar. Pepatahnya sendiri diharapkan ada artinya juga, sehingga pembaca blogbintang.com lain bisa terbantu jika tidak begitu mengerti akan maksudnya. Terserah dalam tema apa, apakah itu nasihat, cinta ataupun sesuatu yang lucu. Kami tunggu ya!!

Kamis, 13 Maret 2014








mungkinkah ini adalah sejarah yang sesungguhnya tentang awal terbentuknya Bs melati??? Kalau kita simak baik-baik,banyak kesamaan yang akan kita temui dalam artikel ini..!


Pendirian Paguyuban Pencak Silat Nampon [1]

Pada akhir abad ke-19 Pencak Silat Nampon telah dipelajari secara terbatas tetapi baru dikenal luas pada tahun 1932 ketika Nampon melakukan aktivitas nyleneh di depan stasiun Padalarang. Saking girangnya menyambut kelahiran anak pertamanya, Nampon diluar kesadarannya berteriak-teriak seperti orang gila. Karena dianggap gila, Nampon hendak diringkus beramai-ramai. Namun dari sekian orang yang akan menjamah tubuhnya jatuh terpelating. Pada tahun 1920, Tjoa Nam Fu, China peranakan Semarang mengajarkan silat Kaifeng pembangkit manit krach, seorang muridnya bernama Mahmud dari Sarikat Islam. Kelak Mahmud setelah mendapatkan jurus-jurus Kaifeng bergelar Nampon (dari kata Namfu) Nampon lahir di Ciamis pada tahun 1888 dan wafat tahun 1962. Semula adalah pegawai di jawatan kereta api di zaman Belanda. Ia dipecat dan berulang kali masuk bui karena sikapnya yang anti penjajah Belanda. Di antara murid Nampon yang berjasa ikut mengembangkan tenaga dalam adalah Setia Muchlis dan KM Tamim yang kemudian mendirikan perguruan TRI RASA yang banyak diikuti kalangan Mahasiswa di Bandung, di antaranya murid itu adalah Bung Karno dan M Natsir. Menurut kalangan pendekar sepuh di wilayah Jawa Barat, sebelum memperkenalkan “jurus tenaga dalam“ Nampon banyak belajar ilmu dari pendekar yang lebih senior. Ia pernah berguru pada Abah Khoir pencipta Silat Cimande, dan pendekar- pendekar asal Batavia di antaranya Bang Madi, Bang Kari, Bang Ma’ruf juga H Qosim pendekar yang diasingkan kerajaan Pagar Ruyung, Padang karena mengajarkan silat di luar kerajaan. Aliran bercorak Nampon menyebar ke Jawa Tengah melalui perguruan Ragajati, JSP (jurus seni penyadar) dan beberapa aliran tanpa nama. Kini ketika perguruan tenaga dalam menjamur hampir di seluruh kota dengan bendera yang berbeda-beda (walau corak jurus dan oleh napas serupa), kemudian muncul pertanyaan, dari mana asalnya ilmu tenaga dalam dan siapa tokoh yang pertama kali menciptakannya?

pendiri perguruan budi suci

Perguruan Budi Suci didirikan oleh Haji Abdul Rosyid. Aliran ini banyak menyebar ke Jawa dan Sumatra. Sidik, murid dari H Abdul Rosyid, pada tahun 1985 mengatakan bahwa jurus tenaga dalam Budi Suci diwarnai keilmuan Abah Khoir dan Nampon. Begitu halnya dengan aliran yang banyak berkembang di Jawa Tengah, seperti Ragajati di Banyumas, JSP (Jurus Seni Penyadar) di Tegal dan beberapa aliran di Semarang. Di pulau Jawa, Budi Suci berkembang di wilayah pantai utara ke arah timur mulai dari Jakarta, Bekasi, Karawang, Cikampek, Kuningan, Indramayu dan Cirebon, Semarang, Rembang dan tahun 1983 di Sirahan, Cluwak, Pati Utara. Dari kalangan Budi Suci atau perguruan yang mengambil sumber dari aliran yang didirikan H Abdul Rosyid ini setidaknya ada 3 nama tokoh yang disebut-sebut dalam “ritual” yaitu (Madi, Kari dan Syahbandar.) Dari aliran Budi Suci yang keilmuannya konon bersumber dari Khoir dan Nampon, juga tidak berani mengklaim bahwa tenaga dalam itu bersumber (hanya) dari Nampon seorang. Begitu halnya kalangan yang mengambil sumber dari Margaluyu. Kalangan Budi Suci, menganalisa bahwa Namponlah yang patut dianggap sebagai pencipta, karena dalam ritual (wirid), nama- nama yang disebut adalah Madi, Kari dan Syahbandar (Syeh Subandari), sedangkan nama Nampon tidak disebut-sebut. Ini menunjukkan bahwa inspirasi ilmu berasal dari tokoh sebelum Nampon, walau nampon yang kemudian merangkum dan menyempurnakannya. Namun kesimpulan itu diragukan mengingat pada masa pendekar Madi, Kari, Sahbandar ini tenaga dalam belum dikenal. Terbukti, dalam suatu peristiwa saat Madi diserang kuda binal juga mematahkan kaki kuda dengan tangkisan tangannya, dan Khoir guru dari Nampon saat bertarung dengan pendekar Kung Fu, juga menggunakan selendang untuk mengikat lawannya pada pohon pinang. Artinya, jika tenaga dalam itu sudah ada, dan mereka-mereka itu adalah pakarnya, kenapa musti pakai selendang segala? Kenapa tidak pakai “jurus kunci” agar pendekar Kung Fu itu tidak bisa bergerak. Justru pemanfaatan tenaga dalam itu baru tercatat pada era Nampon tahun 1930-an. Kasus “histeris” saat menyambut kelahiran anaknya di depan stasiun Padalarang, dan pertarungan Nampon dengan Jawara Banten juga saat melayani tantangan KM Thamim yang (setelah kalah) lalu berguru kepadanya.
sumber. wikipedia

sejarah bs melati
versi yang ada sekarang


Sekitar tahun60-an, seseorang yang bernama Bapak A Munawir yang berasal dari Purworejo mendapat kepercayaan atau mandat untuk merintis dan mengembangkan beladiri pencak silat Budi Suci dari gurunya yang berasal dari Jawa Barat. Setelah beberapa tahun berjalan, ternyata perkembangan Budi Suci yang dipimpin oleh Bapak A Munawir tidak banyak mengalami kemajuan, khususnya di Kota Semarang yang mana pada saat itu beliau berdomisili di Semarang. Hal tersebut disebabkan karena usia beliau yang sudah lanjut dan masih belum tersusun administrasi yang baik. Oleh sebab hal tersebut, pada tanggal 7 Agustus 1978, Bapak A Munawir mewariskan ilmunya dan memberi mandat kepada salah seorang muridnya yang bernama Achmad Boesjairi yang berasal dari Jember untuk mengembangkan dan melestarikan Budi Suci. Maka sejak itu Achmad Boesjairi meneruskan dan mengembangkan Budi Suci secara tertib administrasi sampai ke daerah- daerah lain dengan alamat sekretariat pusat di Purwosari Wijilan No.360A, Kudus, Jawa Tengah. Pada awal tahun 1986 sebelum Bapak A Munawir wafat, beliau pernah datang ke sekretariat pusat Budi Suci di Kudus dengan tujuan ingin menggabungkan Budi Suci yang dipimpinnya dengan Budi Suci yang dipimpin oleh Achmad Boesjairi. Beliau juga berpesan kepada salah seorang murid terdekatnya di Semarang bahwa bila ia ingin melanjutkan dan mengembangkan Budi Suci supaya bergabung dengan Budi Suci yang dipimpin Achmad Boesjairi di Kudus, karena pada saat itu telah disinyalir bahwa banyak bermunculan nama Budi Suci di daerah-daerah lain yang ternyata bukan satu aliran dan hanya kebetulan memiliki nama yang sama. Demi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan serta untuk membedakan aliran Budi Suci yang berpusat di Kudus dengan aliran Budi Suci yang lain, maka Achmad Boesjairi selaku guru besar Seni Bela Diri Silat Budi Suci mengambil suatu kebijaksanaan untuk mengeluarkan Surat Keputusan No.01/GB/BSMelati/1/1960 Tgl.13-01-1990 tentang perubahan nama Budi Suci yang berarti perbuatan baik menjadi Budi Suci Melati (BS Melati) yang berarti perbuatan baik lahir dan batin. Dengan arti kata lain bahwa Budi Suci Melati (BS Melati) lebih mengutamakan mutu atau kualitas dibandingkan dengan kuantitas. Kemudian pada tanggal 19 April 1996, sekretariat pusat dipindahkan ke Semarang berdasarkan Surat Keputusan Guru Besar No.02/GB/BSMelati/IV/96 ke alamat Jalan Randu Garut No.27 Rt.004 Rw.08, Tugu, Semarang, Jawa Tengah.

semoga bermanfaat...!!!